Belajar dari Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Haji Oemar Said Tjokroaminoto alias H.O.S Tjokroaminoto merupakan seorang Guru Bangsa. Banyak yang tak mengenal beliau sebelum akhirnya kisah perjuangan beliau bersama Sarikat Islam di film kan pada awal tahun ini. Ya, tokoh fenomenal ini sering dijuluki Raja Jawa tanpa Mahkota. Kebijaksanaan beliau mengantarkan beliau menjadi seorang orator ulung yang mampu membius ribuan rakyat untuk sekedar mendengar pidato beliau. Hal ini yang kemudian ‘ditiru’ oleh muridnya Soekarno yang pada akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia yang juga terkenal dengan pidatonya. Selain Soekarno, Tjokro juga melahirkan sosok pemuda dengan karakter yang kuat serta ideologi yang beragam. Keempat pemuda tersebut yakni Soekarno, Kartosuwiryo, Semaun, dan Muso.

Beberapa hari lalu tepatnya hari Sabtu (07/11/2015) saya berkunjung ke rumah kuno yang dulunya merupakan Rumah Guru bangsa H.O.S Tjokroaminoto. Iseng saja mengobati rasa penasaran saya. Bukan penasaran karena Tjokro, bukan juga karena rumahnya, Ya ada sih dikit haha. Tapi penasaran ini muncul karena pada malam harinya saya sempat berdiskusi dengan teman – teman tentang peristiwa pembunuhan 7 jendral TNI di lubang buaya. Yang akhirnya merembet ke permsalahan PKI dan awal mula berdirinya PKI yang ada kaitannya dengan organisasi Sarikat Islam yang lebih dulu ada saat itu. Ya, meskipun agak gak nyambung tapi akhirnya saya mendapat sedikit pencerahan pasca lawatan saya ke rumah Tjokro.

Sempat dibuar nyasar dan mbulet mencari lokasi rumah Tjokro di Jalan Peneleh Gang 7 ini, namun akhirnya sampai juga di kediaman H.O.S Tjokro yang sepertinya tak lagi kuno karena renovasi ulang yang ‘katanya’ sih menjaga salah satu warisan budaya Indonesia. Berjarak sekitar 2 km dari Tugu Pahlawan, perjalanan bisa ditempuh sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor. Ya kalau mau jalan lebih kelihatan perjuangannya sih haha. Sebelum sampai di Jalan Peneleh Gang 7 terdapat papan kecil yang memberikan informasi kalau disana terdapat rumah Tjokro. Ya sedikit membantu temen – temen kalau mau kesana biar gak kebablasan. Pucuk dicinta ulang pun tiba, baru sampai kesana saya langsung bertemu dengan penjaga Rumah Tjokro yang merupakan Ketua RT setempat. Pak Eko namanya, guide tour gratis yang menjelaskan saya selama saya berkunjung kesana. Lumayan gak perlu tanya – tanya orang haha

Mengambil nilai – nilai perjuangan dari Tjokro. Ya karena momennya pas banget 10 Nopember ini jadi refleksi yang pas ketika Pak Eko banyak menerangkan tentang perjuangan Tjokro pada masanya. Meskipun dikalangan Intelektual tokoh Tjokro ini lebih populer, namun Tjokro kalah populer kalau misal dibandingkan dengan sosok seperti Soekarno atau Bung Tomo ketika momen hari peringatan pahlawan. Pak Eko menjelaskan bahwa rumah ini simbol bahwa sejarah merupakan hal pentinh untuk dipelajari generasi sekarang supaya bisa mengambil hikmah dari perjuangannya. Saya pernah mendengar salah satu quote dari seseorang, lupa saya namanya. Intinya gini :

“Bagaiamana bisa bangsa ini melahirkan sosok Soekarno – Soekarno baru kalau kita saja tak mau mempelajari Sejarah bagaiamana Soekarno menjadi sosok Soekarno yang kita kenal?”

Masuk akal juga sih. Memang kita beda zaman, dulu gak ada internet sekarang zaman serba canggih. Tapi harusnya kan semakin canggih semakin pintar dong generasinya? Sayangnya gak berlaku di Indonesia, dulu para pahlawan adalah tokoh – tokoh yang gemar membaca nan gemar menulis. Generasi sekarang? Faktanya aja tingkat membaca orang Indonesia aja hanya 0,001 %. Hmmm bayangin aja dari 1000 orang cuman 1 orang aja yang gemar baca. Ya sudahlah, semoga generasi muda bisa segera berbenah. Kok jadi curhat ya? Haha. Pak Eko juga menceritakan bahwa apa yang di contohkan Tjokro dulu itu berhasil memberikan dampak yang bagus dalam metode mendidik generasi muda. Yakni melalui diskusi. “Melalui diskusi kiata bisa mendapatkan berbagai macam pemikiran dari beragamnya orang – orang yang berkumpul dalam lingkar diskusi” Begitu kata Pak Eko. Tjokro sering mendatangkan tokoh – tokoh terkemuka dalan diskusinya bersama anak – anak didiknya. Ya tidak heran, hasrat perjuangan membela kaum lemah dan tertindas sangat dimiliki oleh tokoh – tokoh saat itu termasuk keempat anak didik Tjokro karena begitu terasanya perjuangan orang – orang dulu melawan penindasan pemerintah belanda.

Berbicara tentang sejarah, alasan saya berkunjung ke rumah Tjokro belum terjawab. Saya sedikit diri menyempatkan berkeliling di rumah Tjokro. Benar memang, apa yang saya baca tentang awal mula berdirinya PKI yakni karena datangnya Tokoh Belanda bernama Sneevliet yang ketika itu bertemu dengan Semaun. Pada dinding rumah Tjokro terdapat pigora yang menceritakan kenapa semaun akhirnya mendirikan PKI di Indonesia. Karena kecocokan semaun dan sneevliet dalam menegakkan kemerdekaan kaum buruh mendorong akhirnya SI ( Sarikat Islam ) pecah menjadi dua. Ya, jadi bahas PKI deh, haha. Terus masalah lubang buaya? ‘Katanya’ sih 7 Jendral TNI yang dibunuh di lubang buaya adalah kandidat kuat pengganti Soekarno. Ya banyak kemungkinan yang terjadi siapa – siapa yang terlibat di pembunuhan tersebut, bisa jadi PKI ? Bisa jadi orang dalam TNI ? Hmmm. Semoga kita lebih terbuka melihat kacamata sejarah. Skeptis dikit, gak menelan mentah – mentah tapi mencari tahu. Kalau kata Pak Eko sih, “Sejarah sekarang banyak yang diputarbalik, apa yang dipelajari di buku sejarah SMA tidak sama dengan kenyataan, gimana kita bisa belajar dari sejarah kalau sejarahnya sendiri diputarbalikkan?”

Sedikit sindiran juga diberikan Pak Eko yang juga aktif sebagai praktisi AMDAL. Mahasiswa sekarang banyak yang hanya memikirkan individu, mereka tak lagi di didik namun mereka dicetak sebagai mahasiswa yang menyiapkan dirinya sendiri, begitu ujar Pak Eko. Sudah seharusnya mahasiswa tak lagi hanya belajar linier tentang keilmuannya, namun juga mau belajar tentang sejarah pahlawannya. Apa yang dilakukan bangsa ini terhadap Soekarno di akhir hayatnya mungkin yang menyebabkan bagaimana kita memperlakukan pemimpin kita dengan tak manusiawi. Padahal ketika Soekarno itu turun Jepang pun ikut menangis karena begitu tak manusiawi nya Soekarno diperlakukan terlepas faktor yang menyebabkan Soekarno turun, belajar dari Jepang bagaimana mereka menjaga para pemimpinnya demi kemaslahatan negaranya dan bagaiamana mereka menjaga orang berpendidikan itulah yang mengantar mereka pada kemajuan teknologi. Linier dengan apa yang saya jelaskan sebelumnya, pak Eko juga mengkritik perilaku pemuda sekarang yang dengan mudahnya menghujat Presidennya, padahal sudah seharusnya kita menjaga pemimpin bangsa ini, toh kalau mau berbicara praktis, kita sendiri juga kan yang menginginkan beliau untuk jadi Presiden? Lantas ketika beliau ada masalah apakah akhirnya kita hanya bisa menghujat?
Belajar dari momen 10 nopember hari pahlawan. Alangkah indahnya kita banyak belajar dari apa yang sudah dilakukan para pahlawan kita terdahulu. Bukan hanya sebatas mengganti profil picture ketika momen 10 nopember yang sebatas euforia belajar sejarah hanya sebatas hari pahlawan. Namun senantiasa mengaplikasikan di setiap keseharian. Masih banyak para pahlawan yang tak sebegitu populer yang bisa kita cari tahu dan pelajari kisah perjuangannya. Bukan hanya yang ada sebatas di buku sejarah. Jangan terlalu sempit juga memaknai hari pahlawan. Mulai dari yang kecil menghargai pahlawan yang ada di sekitar kita. Petugas kebersihan, keamanan, tokoh – tokoh penjaga warisan budaya seperti Pak Eko pun patut kita hargai jasa nya yang dengan konsisten memberikan kebermanfaatan tanpa harus mengharapkan popularitas. Semoga sebagai generasi yang berpendidikan kita tak hanya berdiam diri di depan TV dan hanya menyiapkan pribadi. Bukankah lebih romantis apa bila hidup kita ini kita berikan untuk kebermanfatan orang banyak?

Selamat Hari Pahlawan !
Surabaya, 10 Nopember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s