Catatan Pinggir : Post Power Syndrome

Keluhan datang silih berganti. Cibir sana cibir sini, begitu pula orang – orang yang menerima cibiran, meminta untuk diselesaikan masalahnya. Mulai dari skala jurusan, yang mengeluh karena seniornya menuntut banyak hal. Padahal tak sedikit tuntutanya yang merupakan pekerjaan rumah mereka sendiri ketika menjabat sebagai fungsionaris himpunan. Sadis, ironi apalagi yang terjadi, fenomena serupa juga terjadi di kampus. Iklim yang katanya lebih progresif dan dinamis ternyata juga mendapatkan tekanan dari eks fungsionarisnya. Glorifikasi kepengurusannya terdahulu, seakan menjadi free pas bagi dirinya untuk menelanjangi segala apapun yang ada didepannya. Tak satupun dia lewatkan, membandingkan dengan apa yang dia lakukan dan menganggapnya paling benar. Kenyataannya, apa yang dia lakukan sudah tak berbekas hingga detik ini. Penyakit !

 

Fenomena tersebut, seakan membuka ingatan akan sebuah peristiwa tentang wabah penyakit yang umumnya banyak diderita manusia yang telah lanjut usia (lansia). Ya, Mereka telah terjangkit syndrome yang meracuni pikirannya dan mempengaruhi tindakan bahkan segala tutur katanya. Kampus ini butuh obat, yang bisa menyembuhkan orang – orangnya dari wabah yang sedang melanda. Kampus ini terjangkit PPS (Post Power Syndrome) !

 

Penulis mencoba menganalogikan fenomena yang terjadi di lingkungan kampus dengan sebuah wilayah yang sedang terjangkit penyakit. Mengajak pembaca untuk sedikit berimajinasi dengan kenyataan yang terjadi sebagai kritik bersama bagi semua.

 

———

 

Post-power syndrome adalah gejala yang terjadi dimana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pada usia mendekati pensiun. Selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa.

Terdapat beberapa penyebab post-power syndrome. Turner & Helms (Supardi, 2002) menggambarkan penyebab terjadinya post-power syndrome dalam kasus kehilangan pekerjaan, yaitu: Kehilangan harga diri; hilangnya jabatan menyebabkan hilangnya perasaan atas pengakuan diri. Kehilangan fungsi eksekutif; fungsi yang memberikan kebanggaan diri. Kehilangan perasaan sebagai orang yang memiliki arti dalam kelompok tertentu. Kehilangan orientasi kerja. Kehilangan sumber penghasilan terkait dengan jabatan terdahulu, dsb.

Biasanya Post-power syndrome banyak menyerang seseorang yang baru pensiun, terkena PHK, seseorang yang pernah mengalami kecacatan karena kecelakaan, menjelang tua atau orang yang turun jabatan, dsb. Hal ini semakin diperparah dengan kondisi mindset individu yang mengatasnamakan jabatan sebagai sesuatu yang sangat membanggakan pada dirinya. Semua ini bisa membuat individu pada frustasi dan menggiring pada gangguan psikologis, fisik serta sosial. Sederhananya, kejayaan yang pernah dialaminya seakan tak bisa diulangi oleh generasi manapun, dan dalam tataran social kerap kali membandingkannya dengan hal lain. Istilah jaman sekarang mungkin ‘gagal move on’ adalah ungkapan yang hampir mirip.

Obat yang dianggap manjur

Di ITS, disini Saya dapat benar-benar melihat kawan, Politik berjubah Dakwah dan Agama, Formalitas berwujud Pengabdian, Aksi ditunggangi Kepentingan Partai Politik, Kebohongan berkedok Toleransi, Pamrih berwujud Kontribusi, Uang berbentuk Karya dan Prestasi. Tetapi, disinilah kawan, Saya juga melihat hal yang konstan bahwasanya Perjuangan tetap berwujud sebuah Perjuangan. “

 – Buletin Supermasi edisi 5 LPM Satu Kosong

Barangkali stereotip, atau bisa jadi masuk akal. Bagi mereka yang kalah berperang, sekarang lebih memilih membuat partai oposisi. Hipotesis orang benar, seperti sebelum – sebelumnya mereka memilih membentuk partai lain dan mencoba merebut massa yang sedang bingung. Berkedok pengabdian masyarakat dan mencerdaskan, mereka mencoba menandingi partai penguasa. Seakan menjadi obat yang manjur, mereka tak kapok mengulangi kesalahan generasi sebelumnya. Seperti menambat tambahan suntikan, mereka pun didukung pula oleh eks partai penguasa. ‘Yes, massa didapat !’ mungkin mereka sedang berseru demikian. Kisah ini mengingatkan kembali dengan perjuangan Hitler yang sia – sia.

Bierkeller Putsch (atau juga dikenal sebagai Putsch München) merupakan suatu percobaan nekad partai Nazi untuk menjatuhkan pemerintahan demokrasi dan mengambil alih kekuasaan melalui cara pemberontakan. Adolf Hitler yang semakin terdesak untuk memegang pucuk pimpinan partai sadar bahwa ia perlu mengambil tindakan segera. Partai Nazi, yang mempunyai 55.000 anggota, merupakan partai politik yang terbesar di Jerman.

Hitler berencana menculik Perdana Menteri Bavaria dan anggota tertinggi kerajaan di sana dan memaksa mereka untuk menyertai pemberontakan terhadap pemerintahan demokrasi Jerman. Adolf Hitler dan pasukan badainya yang bersenjata melakukan pemberontakan dan memaksa Gustav von Kahr,  panglima militer Bavaria, dan  ketua polisi Bundesland Bayern untuk berpihak pada Hitler dan menawarkan mereka jabatan tertinggi dalam pemerintahannya. Hitler amat gembira saat mendapat sokongan mereka dan mulai percaya rencananya untuk menjadi pemimpin Jerman akan menjadi kenyataan. Tindakannya itu ternyata merupakan satu kesalahan. Ketiga pemberontak tersebut tak hadir dalam pertemuan. Ketiga pegawai tertinggi itu berhasil melepaskan diri setelah berjanji untuk setia kepada pemerintah Hitler. Hitler pun gagal. Ia mulai sadar rencananya telah gagal tetapi salah satu temannya yang terkenal Erich von Ludendorff meyakinkannya untuk kembali melakukan kudeta. Singkat cerita saat pendukung Hitler tiba di Munich mereka telah bertembung dengan angkatan polisi di sana. Pertempuran sengit kemudian terjadi antara pihak Nazi dengan pihak berkuasa Muenchen. Dalam beberapa menit saja, 21 orang (termasuk 16 anggota Nazi) terbunuh dan beberapa ratus orang cedera. Hitler berhasil melarikan diri tetapi akhirnya ia bersama pegawai teringginya telah ditangkap.

Kisahnya tak sama. Kudeta yang dilakukan tak sama dengan Hitler lakukan. Agaknya ketika dua partai sedang memperbutkan massa yang sama, dan berusaha mencari kesalahan partai penguasa ibarat kudeta klasik era millennium. Dominasi akan membuat salah satu pihak timpang dan ujung – ujungnya berebut popuralitas. Ya, kisah memang tak sama.

 

Penyakit kronis

Wabah tersebut menumbuhkan bibit – bibit penyakit lain. Penyakit semakin kronis, orang – orang nya menjadi semakin Munafik dan Hipokrit. Engan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya. Berpura – pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan – kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut pada ganjaran yang akan membawa bencana bagi dirinya. Cih, ganjaran.

Menggeser tanggung jawab tentang sesuatu kesalahan, sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya. Pemimpin yang tak punya keberanian dan moralita untuk tapil ke depan memikul tanggung jawab terhadap sesuatu keburukan yang terjadi didalam lingkungan tanggung jawabnya. Sebaliknya, jika ada sesuatu yang sukes, yang berhasil dan gemilang, maka manusia Indonesia tak sungkan – sungkan untuk maju kedepan menerima bintang penghargaan tersebut. Padahal dibalik keberhasilan tersebut ada pegawai kecil dan rendah yang tekun bekerja, menahan segala rupa kesukaran hidup dan jarang sekari mendapatkan penghargaan yang seharusnya lebih layak ia terima.

———

 

Kampus ini butuh obat, wabah ini harus segera dihentikan.

Bebaskan mereka dari syndrome yang bisa meracuni pemikiran mereka, segala ucapannya dan kemudian idealismenya.

 

Sudah cukup, jangan kau racuni yang muda. Biarkan dirimu saja yang sakit, sayang seribu sayang mereka yang masih sehat kau racuni dengan bibit penyakit. Biarkan generasiku yang menjadi korban, matinya nilai pendahulu yang sekarang menjadi takhyul bahkan sebagian dari kami percayai. Biarkanlah mereka yang muda bebas menentukkan nasib baiknya, tanpa ada campur tangan kepentinganmu. Membentuk peradaban yang tak hanya menyebarkan kebermanfaatan semu, bagi mereka dan generasi yang akan datang.
Salam Pembebasan!

 

Achmad Zulfikar Fawzi

18, Februari 2016

 

Referensi :

 

[1] Muchtar Lubis. 2012 . Manusia Indonesia. Jakarta [ID]: Yayasan Obor Indonesia.

[2] Psychology Club. 2012. Post Power Syndrome. Alamat web :

      (https://psychologystudyclubuii.wordpress.com/2012/12/30/post-power-syndrome/).

[3] Wikipedia. Bierkeller Putsch. Alamat web :  

      (https://id.wikipedia.org/wiki/Bierkeller_Putsch)

[4]  Buletin Supermasi Edisi 5 LPM Satu Kosong. Tahun terbitan 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s