Merantau Palembang

“The gladdest moment in human life, me thinks, is a departure into unknown lands.” – Sir Richard Burton

Seringkali kita melihat beberapa film yang mengadopsi budaya di daerah Sumatra dengan istilah merantau. Ya, lebih tepatnya seorang yang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kerja atau demi kesejahteraan yang lebih layak. Biasanya pun orang Sumatra pergi merantau ke pulau Jawa yang katanya daerahnya lebih maju dibandingkan pulau lain. Kali ini mungkin saya berkebalikan merantau ke Sumatra. Pengalaman pertama berada jauh dari pulau Jawa lebih dari satu minggu. Terlalu naif sih kalau ini dikatakan sebagai merantau karena hanya 1 bulan saya disini.
Palembang, ibu kota dari provinsi Sumatra Selatan tempat saya merantau. Bukan untuk bersenang – senang, namun lebih tepatnya melaksanakan tugas kuliah namanya Kerja Praktek atau biasa orang lain sebut Magang (beda dengan KKN). Pupuk Sriwijaya tempat saya akan menimba ilmu selama satu bulan untuk belajar bagaimana proses produksi pupuk urea yang bersumber dari gas alam. Saya tidak akan membahas tentang bagaimana kerja praktek saya karena saya belum masuk kerja. Saya akan membahas pengalaman hari pertama keliling Kota Palembang berserta Tips dan Trik bagi kalian yang mungkin berkesempatan main ke Kota Palembang.

Selain penasaran dengan yang namanya Jembatan Ampera dan Pempek. Pertama kali saya datang ke Palembang saya tertarik dengan bahasa yg digunakan sama orang Palembang. Pengalaman kayak di sunda gak tahu apa – apa saya browsing untuk cari tahu bahasa Pelmbang. Beberapa artikel mengatakan budaya disini terpengaruh oleh budaya Melayu, Jawa, Tionghoa dan Arab. Bahasa sehari-hari yang dipakai di kota Palembang disebut baso Palembang atau baso sari-sari. Bahasa ini mengandung unsur kata bahasa Melayu dengan akhiran kata ‘a’ menjadi berdialek ‘o’. Hal ini benar ketika saya mendengar beberapa orang mengucapkan kata seperti apo, cakmano, kemano,siapo. Namun juga ada beberapa tatabahasa Jawa seperti lawang, wong, banyu dan lain-lain. Orang sini biasa disebut Wong kito galo yang artinya orang kita semua. Gak heran pemain klub Sriwijaya disebut Laskar Wong Kito. Yah at least, belajar ‘sikit – sikit lah bahasa sini’.

20160709_135852

Suasana di Bus Transmusi

Tempat kos selama saya Kerja Praktek (KP) ini berada di depan daerah komplek pusri di Jalan Mayor Zen. Kebanyakan disini memang banyak tempat Kos untuk para karyawan atau orang yang sedang Proyek di Pusri atau sekitaran. Perjalanan butuh waktu 30 menit dari Bandara Sultan Mahmud Baddarudin II. Dapat kesempatan ngobrol dengan pendatang juga yg sedang proyek Rekind di Pusri. Ada beberapa Tips dan Trik buat cari Kos di daerah Pusri. Palembang terkenal dengan orangnya yg keras, gak tau ini pengalaman saya punya teman dan beberapa lihat orang disini agak serem. Daerah dekat Pusri kalau gak pintar cari Kos bisa dapat yg gak aman. Kalau mau aman cari yg di Gang depan Rumah Makan Padang Musi Jaya. Kalau butuh mungkin saya ada kontaknya beberapa. Kalau bisa sih saran H-1 Bulan sudah booking daripada cari disini langsung takut kenapa – kenapa. Katanya sih daerah tempat Kos saya  disini paling aman. Hmm, pantes ya kalau malam kok sepi banget daerah sini, ternyata rawan banget ya seperti jambret,begal atau yg lain. Hati – hati bagi yg mau keluar malam.

20160709_134933

Peta Jalur Transmusi

Bisa dibilang ini hari ke 0 saya di Palembang karena belum mulai KP. Mumpung weekend cari kesempatan keliling Palembang. Rencana mau cari tahu kayak gimana sih Jembatan Ampera itu. Waktu awal datang dikasih tahu ada fasilitas bus namanya Transmusi, sekalian mau cobain lumayan buat keliling Palembang. Transmusi ini mirip sama Transjakarta cuman cari operasinya masih pakai sistem Bus Kota di Bandung. Karena kebetulan kali itu mau ke Palembang Trade Centre ( PTC ) dulu jadi gak bisa naik Bus Transmusi kalau dari Kosan. Akhirnya naik angkot oren arah ke barat. Meskipun agak serem karena kebanyakan orang yg jaga Bus Kota dan Angkot pakai tato mirip preman. Apalagi pertama datang udah lihat orang kayak habis ambil handphone. Ya, positif aja karena kita juga jalan ber 5. Ongkos angkot oren Pusri ke PTC 3rb per orang. Gak lama di PTC siang kita mau ke Ampera sekalian mau cobain Transmusi karena searah. Awalnya dikasih tau sama temen rute busnya, lama – lama hafal sendiri kalau sering naik. Ini saya kasih peta rute Transmusi. Sistem Transmusi ini pakai karcis harganya 5000 sekali naik dan 2 kali transit 1 tujuan. Jadi boleh muter palembang kalau emang 1 tujuan. Tapi kalau habis dipakai dan ganti tujuan gak boleh dipakai lagi. Karena sistemnya manual tunjukin karcis ke kondektur jadi bisa jadi ada kecurangan. Fasilitas bagus, tempat duduk, AC dan kalau penuh pegangan tali. Berhenti hanya di halte jadi enak lebih cepat dan aman dibanding Bus Kota Umum di Palembang.

Kritik dan Saran buat Transmusi :  Teruntuk bapak Walikota, ada beberapa hal yang akhirnya ingin saya kritisi dari transportasi umum ini. Pertama yakni jam terbang bus yang gak sampai pukul 10 malam, disana gak sesuai dengan legenda yang diberikan di peta bus. Kalau memang sampai jam 5 mungkin bisa direvisi. Dengar keluhan dari Pak Kondektur sering adanya kecurangan karcis. Saran mungkin fasilitas smartcard nya bisa dipercepat selagi nunggu hal itu, bisa diakali kertas karcisnya di coret atau disobek biar gak bisa dipakai 2 kali.

1468074289603

Foto di pinggiran sungai musi

Untuk ke Ampera dari PTC naik Transmusi gak bisa langsung sekali naik. Jadi harus naik Transmusi dulu dari halte depan sebrang PTC. Dari PTC nanti transit dulu kearah halte deket Polda. Disana nanti turun dulu nunggu bus yang kearah Jembatan Ampera. Kalau misal bingung aranya kemana nanti coba lihat di Peta Rute atau tanya aja ke abang kondekturnya aja mau kemana nanti pasti dikasih tau tempat halte transitnya kemana, tapi yang proaktif ya. Sampai di Ampera nanti turun di Halte bawah Jembatan Ampera. Di daerah Jembatan Ampera sini banyak spot penting di Palembang seperti Benteng Kuto Besak, Masjid Agung, Museum Sultan Mahmud Baddaruin II, Pasar ilir 16, Monpera, atau setelah turun kalian pasti akan ditawari untuk menyebrang ke Pulau Kemaro disana ada wisata Pagoda. Sayangnya karena niatnya keliling Palembang jadi cuman jalan – jalan aja disekitaran jembatan dideket Benteng Kuto Besak. Disini banyak pedagang yang jual makanan ringan khas Palembang seperti Pempek dan Mie Tektek.

FYI : Ampera kepanjangan dari Amanat Penderitaan Rakyat sedangkan Monpera kepanjangan dari Monumen Perjuangan Rakyat.

Selepas dari Ampera saya mau belajar jadi anak Hits Palembang, mau cari mall disini. Sebenarnya tujuannya mari cari Ear Plug buat KP besok di Toko Perkakas tapi ya sekalian lah ya. Tujuannya mau ke Palembang Indah Mall (PIM), kalau mau kesana naik bus dari halte bawah jembatan tadi, bilang kalau mau ke PIM nanti bakal suruh transit halte deket monumen trus 1 halte lagi namanya apa saya lupa. Nanti bakal turun di halte PIM. Disini kalian pasti bingung lokasi PIM dimana, karena kalian harus jalan dulu lewat jemabatan sebrang kali buat tahu kalau disana ada PIM. Yah, lumayan lah jalan sedikit. Gak lama di PIM saya mau ke Palembang Square karena gak nemu ear plugnya. Tujuan mau ke Palembang Square (PS), sebenarnya bisa naik angkot dari PIM ke PS atau naik bus cuman karena kita salah jalan jadi saya dan teman – teman harus jalan lumayan jauh buat ke arah PS. Nanti kalian akan nemuin Per 5 an untuk kearah PS disana ada Gedung DPRD kalian ambil kearah Gelora Sriwijaya, disitu ada 2 Mall : Palembang Icon (PI) sama Palembang Square (PS) sebelahnya Rumah Sakit Siloam. Yah, perjalanan lumayan melelahkan dan apes nya gak dapat itu namanya ear plug. Selepas dari PS pukul 6 sore kami berencana naik Transmusi ke arah Pusri. Baru dikasih tahu sama orang sana kalau Transmusi itu udah gak ada jam segitu, angkot disana juga gak ada. Padahal jadwal di Transmusi tertulis 06.00 – 22.00 tapi karena libur lebaran jadi jam 5 sore sudah habis. Untungnya waktu kita dapat angkot ada yang mau carterin kita ber 5 kearah deket Pusri cuman bayar 10rb per orang. Alhamdulillah lah ya bisa pulang.

Jadi, sebenarnya jalan pulang kearah Pusri itu ada 2. Ini saya baru tahu waktu minggunya saya jalan – jalan lagi. Pertama kalau mau naik Transmusi kalian nunggu di halte PS buat naik Transmusi nanti kalian bakal transit bus yang arah hotel Aryaduta. Nanti bakalan naik bus yang kearah Plaju, masih harus transit lagi di halte depan masjid Agung buat naik Transmusi ke arah Pusri, atau buat kalian yang waspada boleh naik bus kota kearah Pusri ada warna oranye cuman kalau sendirian saran jangan ya buat kalian yang pendatang. Alternatif kedua kalian naik angkoat jurusan ke perumnas, nanti kalian bakal turun di simpang patal. Lokasinya deket PTC tinggal balik pakai angkot warna oren yang awal saya berangkat tadi, ini saran juga jangan sendirian ya suasana sama kayak di Bus Kota. Sampai deh kalian di Pusri

Untuk makanan khas di Palembang ini banyak, ada Pempek di berbagai kedai (Saga Sudi Mampir depan Walikota, Candy deket bandara atau di tengah kota banyak, Pempek Beringin dll) atau waktu kami tanya di daerah Ampera situ orang bilang banyak di Daerah Ilir 27. Selain Pempek juga ada Mie Tektek, Tekwan, Model, Celimpungan, Laksan, Martabak Har, dsb yang sampai hari ini saya baru coba pempek. Makanan di Palembang sini banyak masakan Padang, jadi jangan heran kalau tiap hari makan Padang. Harga makanan disini pun gak murah seperti di Jawa, ya paling murah kisaran 10 – 15 ribuan lah. Mungkin ada beberapa yang saya lupa tulis. Kalau nanti ada kesempatan saya akan berbagi tentang makanan di Palembang dan beberapa lokasi wisata lain yang akan dikunjungi.

Jadi, tertarik merantau ke Palembang? atau Kerja Praktek di Pusri ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s