Buku Madilog, Konstelasi Pemikiran, dan Sebuah Kontemplasi

Sebuah cerita dibalik perjalanan menemukan keberanian membaca buku berjudul madilog. Penulis bukan hendak membuat resensi atau merangkum seluruh isi buku madilog karya tan malaka karena penulis belum selesai membacanya hingga tuntas. Penulis hanya ingin bercerita tentang perjalanan mulai dari pemikiran hingga keputusan membaca buku madilog.

Phobia Buku Kiri

Seakan menjadi trauma tersendiri membaca dan memiliki buku berbau ‘kiri’ ketika kala itu saya memutuskan untuk membeli buku berjudul madilog. Tepat 2 minggu sebelum akhirnya berita — berita itu muncul diberbagai media pada rentang bulan Mei hingga Agustus 2016. Kala itu terjadi pemberangusan buku — buku yang dianggap pro PKI dan dapat memunculkan kembali kebangkitan organisasi terlarang tersebut. Beberapa orang yang tidak diketahui background melarang terbitnya buku — buku ‘kiri’ yang ada di toko buku. Bahkan kegiatan ini didukung oleh perpustakaan nasional (perpusnas), beberapa ormas, dan instansi militer karena jauh dari nilai pancasila serta berdampak buruk meracuni pemikiran anak — anak. Tak berhenti sampai disana kegiatan tersebut diiringi pemboikotan dan pembubaran beberapa kegiatan bernuansa literasi seperti bedah film, bedah buku, hingga diskusi bersama tokoh korban HAM masa lampau.

Lain halnya saya lain pula dengan militer Indonesia. Berniat memberantas komunisme malah melakukan kegiatan anti intelektualisme. Seakan masih terbawa situasi orde baru mereka menggunakan kepemilikan lebih mereka terhadap senjata untuk melakukan pembubaran terhadap beberapa diskusi karena mendapat legitimasi sosial dari beberapa pihak yang menamakan dirinya anti-komunisme ataupun front pembela pancasila. Padahal bisa dibilang mereka merupakan orang yang masih belum percaya dengan temuan terbaru 1965 yang membantah informasi yang beredar pada orde baru. Beberapa aksi pembubaran perpustakaan jalanan pun dilakukan untuk menghilangkan modus kegiatan PKI berkedok intelektualisme. Yah, apasih pak saya cuman mau baca buku?

Phobia ini semakin menjadi, ketika saya hidup bersama teman — teman yang memiliki hobbi mengoleksi buku berbau ‘kiri’ , menggelar perpustakaan jalanan hingga mengikuti kegiatan diskusi — diskusi berbau kiri. Sebutan — sebutan ‘bro’ dikalangan kami yang berganti menjadi ‘kamerad’ belakangan ini saya sadari hal tersebut merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh anggota komunis. Teman — teman terbiasa berfikir radikal dan begitu semangat dalam membela hak — hak kaum lemah yang sedang terlibat pada kasus sengketa tanah. Sementara itu saya masih terjerembab terhadap dilema tak penting, mau saya apakan buku baru saya ini?

Manusia dan Simbol — Simbol

Mungkin saya termasuk salah satu orang yang mudah termakan arus deras informasi. Bukan malah menfilternya namun lebih mempercayainya begitu saja. Seharusnya saya lebih bersyukur berada pada lingkungan teman yang mampu berfikir kritis dan mengkaji suatu hal berdasarkan metodologi ilmiah. Tapi apadaya kalau hari ini manusia lebih percaya pada simbol — simbol daripada sebuah kebenaran ilmiah. Lebih mudah bagi seseorang menangkap sebuah pola dibandingkan mencari tahu akar permasalahan.

Simbol tersebut bisa dilihat dari segi bungkus maupun penokohan salah satu orang. Simbol bungkus itu bisa dibilang cover luar dan tak begitu mendalam. Simbol bungkus bisa dilihat dari seseorang yang memakai baju warna merah disimbolkan berani, memakai baju warna hitam disimbolkan dengan suram, dan memakai baju putih bersih mondar — mandir didekat masjid lantas dibilang ustadz atau kyai. Berbeda dengan bungkus, faktor penokohan bisa dibilang lebih dalam lagi statusnya dibanding bungkus namun masih disebut symbol. Simbol penokohan salah satu orang dilihat karena aktifnya seseorang tersebut pada suatu kegiatan atau organisasi. Misalnya saya begitu aktif dikegiatan organisasi lingkungan padahal background saya merupakan engineer lantas saya dibilang engineer yang peduli lingkungan. Begitu juga Tan Malaka yang aktif dan menjadi ketua di organisasi PKI lantas dibilang tak beragama. Namun siapa tahu kalau seorang Tan adalah orang pondok, yang sejak kecil sudah hafal Al-Quran?

Penyikapan seperti ini yang jauh dari yang namanya mendasar dan berdasarkan kebenaran ilmiah. Buku itu masih tertata rapi dilemari begitu juga segelnya yang masih menempel. Hal yang sama saya takutkan ketika akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku ini, apakah saya nanti dicap sebagai antek komunis?

Buku dan Gaya Hidup

Membaca buku sekarang sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Beberapa situs mengatakan kalau orang kaya dan sukses bisa sukses karena mereka menghabiskan waktu 10 jam dalam sehari hanya untuk membaca buku. Hal tersebut ternyata sudah di contohkan oleh para pendahulu kita yang merupakan pembaca kelas berat. Sebut saja Bung Karno, Bung Hatta, dan Tan Malaka adalah tokoh — tokoh yang memiliki kegemaran membaca buku. Mereka menghabiskan waktu luang untuk membaca buku, bahkan disaat akhir khayatnya selama mereka diasingkan dalam penjara justru dihasilkanlah karya — karya yang luar biasa. Mereka tak hanya sekedar membaca dan menjadikannya sebagai gaya hidup, melainkan hidup dan menghidupi buku hingga akhirnya banyak karya hadir dari tangan hebatnya.

Hari ini sebagian masyarakat bisa dibilang sudah gemar baca buku hingga akhirnya menjadikan hal tersebut sebagai gaya hidup. Beberapa dari mereka rela setiap bulan pergi ke toko buku untuk membeli buku yang harganya pun relatif mahal. Entah karena mereka butuh akan hal yang ada didalamnya (isi buku) ataupun keinginan untuk memiliki wujud buku tersebut, saya tidak tahu pasti. Mungkin ini juga terjadi pada saya ketika memutuskan untuk membeli buku madilog, karena buku ini sempat diisukan langka akhirnya saya ingin memiliki buku ini, namun ternyata membeli tak semudah membaca bukunya. Namun untuk sebagian orang membeli buku juga merupakan hal yang sulit, karena untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari aja susah, ‘boro — boro’ mau beli buku.

Salah kaprah lain yang terjadi di masyarakat akhirnya cenderung mengkultuskan wujud buku itu sendiri. Buku itu akan dianggap keren dibaca ketika tokoh penulisnya merupakan tokoh yang fenomenal seperti Karl Marx, Paulo Freire, Tan Malaka, Hatta, Plato, Camus dsb. Sehingga ketika membacanya lantas orang akan terkesan melihat kita yang sedang membaca. Misalnya begitu orang mendengar tokoh Pramoedya dengan bukunya yang terkenal yakni Bumi Manusia maka orang antusias cari dan ingin membaca buku tersebut. Hanya sebatas itu, padahal dia tak tahu kalau buku tersebut ada 4 seri lantas dia hanya berhenti pada 1 buku setelah mempostingnya di akun media sosialnya. Apa anda termasuk salah satu dari orang tersebut?

Pencerahan

Terlibat dalam sebuah diskusi panjang menuntut saya mempelajari lebih tentang arti materialisme. Memandang sudut lemari buku, satu — satunya sumber yang membahas tentang materialisme adalah buku madilog yang masih tersegel sejak pertama kali saya beli buku. Bukan karena ingin dicap keren karena saya akan membaca buku madilog karya Tan Malaka atau hendak modus dengan seseorang, melainkan hanya itu buku yang saya punya selain sumber dari internet. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian dan menghilangkan phobia yang pernah saya alami, saya putuskan untuk membuka segelnya. Jreng!

Bersambung

Pepatah tentang don’t judge people by its cover memang benar. Stigma yang menganggap buku ini sebagai buku ideologis yang menanamkan faham komunis tak benar, begitu juga tentang teori — teori nya yang memaksa orang untuk setuju juga tak sepenuhnya benar. Buku madilog merupakan buku yang ditulis ilmiah berdasarkan pengalaman dan referensi berbagai macam buku yang pernah dibaca Tan. Tan juga menjelaskan bahwa madilog merupakan cara berfikir dan tak boleh menyesatkan cara berfikir. Tan juga meruntuhkan phobia yang saya alami, dengan menjelaskan perbedaan hal yang bersifat rohani dengan materialisme. Hal rohani yang disebut sebagai logika mistik dijelaskan secara gamblang dengan berbagai contoh konteks permasalahan disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Sekaligus sedikit menjawab kegelisahan saya tentang perbedaan mukjizat dan materialisme.

Segala yang datangnya dari luar termasuk ilmu pengetahuan itu bersifat materialis menjadi sebuah input bagi seorang manusia. Melalui input tersebut akhirnya kita akan berdialektika dalam diri untuk mencerna segala yang masuk dan mengeluarkannya sebagai output ilmu pengetahuan (logika). Berbeda dengan logika mistik yang bertentangan dengan akal, sehingga akan menyesatkan kalau kita tak bisa membedakan dengan baik. Sangat jelas bahwa Tan mencoba menempatkan agama pada posisi yang luhur dan tak berani membuat teori — teori yang menyesatkan. Tan membuat batasan berdasarkan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah tentang mana yang masuk dalam logika akal pikir manusia. Sehingga ketika seorang membaca madilog lantas tak bisa berfikir jenih maka patut dipertanyakan?

Tak bermaksud menyingkat konten yang ada dalam buku ini, karena masih banyak hal — hal yang perlu dipahami lebih lanjut dan pendalaman pada bab — bab selanjutnya. Tertarik?

Selamat Membaca!

Glosarium

konstelasi/kon·ste·la·si/ /konstélasi/ n 1 kumpulan orang, sifat, atau benda yang berhubungan; 2 keadaan, tatanan: — politik di Eropa; 3 bangun; bentuk; susunan; kaitan; 4 gambaran; keadaan yang dibayangkan

kontemplasi/kon·tem·pla·si/ /kontémplasi/ n renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh

Achmad Zulfikar Fawzi

Senin 3 Oktober 2016.

Advertisements

3 responses to “Buku Madilog, Konstelasi Pemikiran, dan Sebuah Kontemplasi

  1. Wih, mantep mas pemaparannya. tapi, bolehkan untuk mengomentari sedikit tentang topik yang dibahas di tulisan ini :

    1). Setidaknya, sampai sekarang aku masih gak ngerti tentang istilah Phobia Buku. Makdudku, kenapa ada orang yang harus anti terhadap buku-buku tertentu. padahal, buku itu bagus saja adanya. kalaupun ternyata ada buku yang gak bagus, gak bermutu, gak berbobot, gak bernilai, gampang kan bagi kita sebagai pembaca (yang punya kuasa) untuk tidak membacanya. Intinya sih, buku itu ibarat teman. bisa mempengaruhi kita. saya sepakat. tetapi membatasi buku apa yang boleh dan tidak boleh dibaca, adalah suatu pelanggaran. makanya saya tidak percaya ada orang yang keluar agama atau murtad karena membaca novelnya salman rushdie yang berjudul satanic verses, misalnya. karena buku itu cuma kertas, dan setelah dibuka-dibaca, maka disana terjadi proses interaksi antar a penulis dengan pembaca. mungkin pemikirannya gak berimbang, bisa jadi. tapi sebagai pembaca, kan seharusnya juga harus mampu untuk menerima,
    menolak, memfilter, atau dalam bahasa mas, ada proses dialektika didalamnya, mana yang baik sehingga boleh diambil, dan mana yang tidak atau harus ditinggalkan. tapi kalau harus phobia sedari awal, termasuk yang menutup diri gak sih mas? 🙂 saya juga termasuk orang yang tidak pilih2 kalau baca buku, selagi bagus, bernilai dan berbobot, mengapa tidak. mau itu temanya tentang atheisme, agnostik, sosialisme, liberalisme, dan tetek bengek lainnya.

    2). Saya heran mas, orang sekaliber Tan Malaka yang jasanya banyak, termasuk intelektual, dan tokoh, tapi hingga saat ini tidak ada kesadaran dari pihak pemerintah untuk mengangkatnya menjadi pahlawan. mungkin iya negara kita punya trauma masa lalu. tapi apa sedemikian akutnya? kalau pun ia punya kesalahan, tapi kan kebaikan atau jasanya juga sama banyaknya.

    3). Saya jadi ingat perkataan seseorang dosen UGM kalo gak salah, katanya, kalau ada orang yang pada usia 20-an tidak suka sosialisme, maka ia tidak punya hati. tapi kalo seandainya ia suka dan hingga usia 30-an masih suka, orang itu tidak punya otak. Haha..

    Salam kenal. oia aku juga anak lpm loh mas. angkatan 2016. salam kenal. 🙂

    Like

    • Maaf nih baru sempat balas, bingung mau balas apa panjang banget. Ini tulisan iseng sebenernya, karena susah jelasin madilog nya Tan Malaka, ya jadinya sharing aja perihal pengalaman baca buku Madilog, haha. Mungkin diskusi secara langsung lebih enak, kan sekampus juga toh? haha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s