Buku Madilog, Konstelasi Pemikiran, dan Sebuah Kontemplasi

3 thoughts on “Buku Madilog, Konstelasi Pemikiran, dan Sebuah Kontemplasi”

  1. Wih, mantep mas pemaparannya. tapi, bolehkan untuk mengomentari sedikit tentang topik yang dibahas di tulisan ini :

    1). Setidaknya, sampai sekarang aku masih gak ngerti tentang istilah Phobia Buku. Makdudku, kenapa ada orang yang harus anti terhadap buku-buku tertentu. padahal, buku itu bagus saja adanya. kalaupun ternyata ada buku yang gak bagus, gak bermutu, gak berbobot, gak bernilai, gampang kan bagi kita sebagai pembaca (yang punya kuasa) untuk tidak membacanya. Intinya sih, buku itu ibarat teman. bisa mempengaruhi kita. saya sepakat. tetapi membatasi buku apa yang boleh dan tidak boleh dibaca, adalah suatu pelanggaran. makanya saya tidak percaya ada orang yang keluar agama atau murtad karena membaca novelnya salman rushdie yang berjudul satanic verses, misalnya. karena buku itu cuma kertas, dan setelah dibuka-dibaca, maka disana terjadi proses interaksi antar a penulis dengan pembaca. mungkin pemikirannya gak berimbang, bisa jadi. tapi sebagai pembaca, kan seharusnya juga harus mampu untuk menerima,
    menolak, memfilter, atau dalam bahasa mas, ada proses dialektika didalamnya, mana yang baik sehingga boleh diambil, dan mana yang tidak atau harus ditinggalkan. tapi kalau harus phobia sedari awal, termasuk yang menutup diri gak sih mas? 🙂 saya juga termasuk orang yang tidak pilih2 kalau baca buku, selagi bagus, bernilai dan berbobot, mengapa tidak. mau itu temanya tentang atheisme, agnostik, sosialisme, liberalisme, dan tetek bengek lainnya.

    2). Saya heran mas, orang sekaliber Tan Malaka yang jasanya banyak, termasuk intelektual, dan tokoh, tapi hingga saat ini tidak ada kesadaran dari pihak pemerintah untuk mengangkatnya menjadi pahlawan. mungkin iya negara kita punya trauma masa lalu. tapi apa sedemikian akutnya? kalau pun ia punya kesalahan, tapi kan kebaikan atau jasanya juga sama banyaknya.

    3). Saya jadi ingat perkataan seseorang dosen UGM kalo gak salah, katanya, kalau ada orang yang pada usia 20-an tidak suka sosialisme, maka ia tidak punya hati. tapi kalo seandainya ia suka dan hingga usia 30-an masih suka, orang itu tidak punya otak. Haha..

    Salam kenal. oia aku juga anak lpm loh mas. angkatan 2016. salam kenal. 🙂

    Like

    1. Maaf nih baru sempat balas, bingung mau balas apa panjang banget. Ini tulisan iseng sebenernya, karena susah jelasin madilog nya Tan Malaka, ya jadinya sharing aja perihal pengalaman baca buku Madilog, haha. Mungkin diskusi secara langsung lebih enak, kan sekampus juga toh? haha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s