Alasan Untuk Tetap Menulis

1486653259207Alhamdulillah hari ini selesai seminar proposal. Akhirnya marathon tugas akhir berhenti sejenak setelah sempro selesai. Pra Desain Pabrik, Proposal Skripsi, Seminar Proposal sekarang tinggal ngerjain skripsinya semoga semuanya lancar juga. Sempat khawatir karena metodologinya kurang 1 penelitian, karena beruntung dapat dosen penguji di penelitian proyek jadi malah dikasih saran hahaha. Walaupun akhirnya suruh ganti variabel dan perbaikan judul. Ceritanya karena belum sempat foto waktu sidang Pra Desain, akhirnya sempetin foto sama partner dari kerja praktek sampai TA. One step again to S.T !
Oiya sebenarnya mau cerita juga kemarin waktu sidang Pra Desain Pabrik kayak gimana, ini ambil judul TA Skripsi apa, dan prosesnya kayak gimana. Mungkin nanti buat tulisan khusus lah ya, bisa dicoba nanti habis pengumpulan revisi laporan Pra Desain. Semoga gak lupa !

Kemarin baca berita berjalan disalah satu siaran televisi, tertarik baca akhirnya cari di google. Beritanya Jokowi bahas mengenai Bonus Demografi Indonesia 2020-2030 mungkin linknya bisa dibaca disini. Sebenarnya bukan berita baru, sudah pernah tahu tentang usia produktif Indonesia yang akan mencapai puncaknya pada tahun kisaran 2020-2040. Hal ini terjadi dibeberapa negara seperti China dan Korea Selatan yang dapat meningkatkan kemajuan dari bangsa itu karena orang – orang yang produktif lebih banyak dari orang yang tak produktif. Nah, lantas apakah Indonesia bisa?

Hal ini yang akhirnya jadi bahan pikiran karena melihat banyak teman disekitar saya yang pada usia produktif tapi gak banyak yang hari ini mereka lakukan dan tak sehebat para pahlawan pada masa mudanya termasuk saya yang hari ini masih labil. Belum lagi diperparah dengan semakin carut marutnya bangsa ini mulai dari berita mengenai PHK masal, kemudian pemecatan Dirut Pertamina yang berhasil membawa perusahaan meraih keuntungan diatas Petronas, dan berita yang lainnya. Beberapa hal tersebut yang juga mengantarkan saya pada penulusuran track record pemuda – pemuda era 2000an tentang apa yang mereka lakukan saat ini untuk Indonesia. Penelusuran saya berhenti pada sosok Faldo Maldini Alumni UI 2011. Selain track record yang bisa dibilang nyeleneh dari kebanyakan sarjana yang setelah lulus langsung kerja, saya tertarik dengan tulisan yang pernah Faldo tulis mengenai ‘generasi yang hilang’ tentang masa emas generasi 1998 yang tak seemas buah yang bisa dipetik pada usia produktif. Seakan menjadi simpul yang terbentuk, terbesit hati untuk kembali menuliskan hasil penelusuran dari sekian banyak permasalahan diatas agar tak sebatas uneg – uneg dipikiran. Tapi tulisannya masih belum selesai, ya semoga weekend ini jadi deh tulisannya. Mau nyerah? Optimis !

Sebenarnya kesan paling berarti hari ini yakni kembalinya saya ke Warung Taman Baca, tempat berkontemplasi dan bercerita tentang masalah hidup. Setelah sekian lama tidak berkunjung karena marathon tugas akhir, akhirnya hari ini pertamakali bercengkrama kembali dengan teman – teman seperjuangan. Ya ternyata apa yang dikhawatirkan masih sama, yakni kegiatan pasca kampus, mampukah idealisme dan kebebasan ini bertahan?
Jawaban itu ada disetiap individu masing – masing. Tentang seberapa kuat mental dan keteguhan hati dalam konsisten melakukan apa yang sudah menjadi tujuan hidupnya. Termasuk saya yang sempat ragu untuk konsisten menulis di blog karena kontennya sederhana. Sempat ragu ini hanya akan jadi cerita yang biasa saja dan ketidakmampuan untuk menjawab pertanyaan : kalau hari ini gak ada kesan berarti gak ada yang bisa ditulis dong? Akhirnya muncul pertanyaan yang melawan keraguan : lantas kenapa kamu gak membuat setiap harimu berkesan? Oiya bener.

Berbicara tentang hidup, kita akan sering bersinggungan dengan sejarah. Seringkali kita menilai hidup individu ini biasa saja karena kita sering melihat tokoh – tokoh besar dengans sejarahnya yang besar. Akhirnya kita gak PD untuk melakukan hal kecil, padahal nantinya lewat hal kecil tersebut yang akan mengantarkan kita menjadi orang yang besar dengan sejarah yang besar. Soe Hok Gie dan Mark Zuckenberg tak pernah mengira beberapa celotehnya pada buku harian dan blog jurnal nya yang sederhana akhirnya dikutip menjadi sebuah sejarah penting dan menjadikan mereka orang yang terkenal. Termasuk saya yang akhirnya kembali menemukan alasan untuk sekedar berbagi tulisan tentang kesan selama sehari. Kalau tidak ada kesan, kenapa tak membuat harimu berkesan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s