Romantisme Berorganisasi

“Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya”

– Pramodya Ananta Toer –

Masih teringat dalam benak kami, agustus 2013 dimana kami dikumpulkan dalam satu barisan. Berkumpul menjadi satu dibawah naungan jurusan setelah sekian lama menempuh perjuangan yang sulit untuk kami gambarkan. Menyanyikan lagu – lagu kebersamaan yang membuat kami lupa dengan aktivitas – aktivitas diluar sana yang sebelumnya kami lakukan. Panas matahari, gertakan senior, dan penugasan yang menumpuk telah menjadi santapan kami sehari – hari. Kami tak bisa melawan, bukannya kami lemah namun kami hanya bisa patuh pada perintah. Namun setelah semua aktivitas tersebut berakhir, perlakuan – perlakuan yang diberikan kepada kami menajdi topik obrolan yang penting setiap malam. Menyeruput secangkir kopi di warung hingga larut malam.
Continue reading “Romantisme Berorganisasi”

Advertisements

Semoga Apa yang Saya Pikirkan Salah

Semoga apa yang saya pikirkan ini salah.

Mau gimana lagi, sekarang BBM sudah naik. Tak banyak setelah ini yg bisa kita lakukan selain mengikuti regulasi harga yang baru dan mendukung program pemerintah. Namun, mau harga apalagi sekarang yang latah akan naik karena pengaruh harga BBM yang naik?

Continue reading “Semoga Apa yang Saya Pikirkan Salah”

Merasa Aktivis

Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. – Soe Hok Gie

“KAMPUS INI TELAH MATI” kata-kata tersebut yang dituliskan oleh Didik Fotunadi dalam buku Revolusi Dari Secangkir Kopi (RDSK) ketika melihat pergerakan mahasiswa yang telah dibayangkan sebelumnya tidak sesuai kenyataan.

Pergerakan mahasiwa yang katanya berapi – api pada saat  1978 ketika berlakunya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) dan terjadinya penangkapan beberapa mahasiswa karena memperjuangkan pergerakan kemahasiswaan di kampus ITB saat itu.
Continue reading “Merasa Aktivis”